Featured Post

Super Cleansing Tea, Teh Detox dengan Kandungan Bahan Alami

harianbekasi.com - Teh detox adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada jenis teh yang di klaim memiliki sifat detoksifikasi atau mem...

Showing posts with label Renungan Hidup. Show all posts
Showing posts with label Renungan Hidup. Show all posts

8.6.19

Isi Koper, Sebuah Renungan Sebelum Mati

🏁..... *ISI KOPER*......🏁



Seorang manusia meninggal dunia...

Ketika ia menyadarinya, ia melihat Tuhan mendekati dirinya dengan sambil memegang sebuah koper di tangan-Nya.
Berikut dialog antara TUHAN & arwah manusia tersebut :

Tuhan :  "Mari kita pergi."

Arwah... :  "Begitu cepat?
Tapi saya masih memiliki banyak rencana."

Tuhan... :  "Maaf, waktumu sudah habis, saatnya untuk pergi."

Arwah... :  "Apakah isi koper yg dipegang itu?"

Tuhan... : "Benda kamu."

Arwah... :  "Benda saya?
Maksudnya barang2 saya ?
Seperti baju saya, uang saya, perhiasan saya ?"

Tuhan.... :  "Bukan, barang itu tak pernah menjadi milikmu. Itu milik Dunia."

Arwah.... :. "Apakah itu ingatan & kenangan saya ?"

Tuhan... : "Bukan, itu milik Waktu."

Arwah... : "Apakah itu bakat & kesuksesan saya?"

Tuhan..... :  "Bukan juga, itu milik Anugerah."

Arwah...  : "Apakah itu istri/suami & anak2 saya?"..

Tuhan..... :  "Tidak juga, itu milik hatimu."

Arwah...  : "Kalau begitu, itu pasti tubuh saya."

Tuhan... :. "Tidak, bukan...
Tubuhmu milik Debu Tanah."

Arwah...  : "Jika demikian isinya tentu jiwa saya."

Tuhan...  : "Kamu salah besar , sebab jiwamu itu milik-KU."

Tuhan lalu menyerahkan *koper* tersebut ke sang Arwah....
Dengan kebingungan & dengan ketakutan sang Arwah membuka koper tersebut
Dan ternyata isinya *KOSONG*...!!!

Dengan hati kecewa & airmata berlinang sang Arwah bertanya pada Tuhan,
"Maksud Tuhan, saya tak pernah memiliki apapun.....???!"

Tuhan menjawab : "Iya, benar. Sesungguhnya kamu itu tak pernah memiliki apapun..."

Arwah...  : "Lalu....., apa yg menjadi milikku, Tuhan...???!"

Tuhan...  : *”WAKTU-mu...!*
Saat-saat di waktu kamu HIDUP..... itulah milikmu...!!!"

*Hidup adalah WAKTU*,
Hargai waktu yang  tersisa, Jalani hidup ini dengan kasihNYA.. Bersyukur setiap saat atas berkat & anugerah NYA maka hidup kita akan bahagia..

Berusahalah untuk selalu berbuat baik, menolong, jangan pernah menyakiti orang, jangan merugikan orang, hindari gosip dan membicarakan kejelekan orang lain, jangan pernah bersikap Paling Benar!
Berhentilah bersungut-sungut dan mengomel..

Nikmatilah waktu setiap saat, yg dilalui bersama orang tua, pasangan,  anak-anak dan sahabat, bahagiakanlah mereka selagi kita masih punya waktu..

Jangan pernah simpan kebencian, dendam, akar pahit, sakit hati dan kejelekan orang lain..

🌿 *"Tetaplah setia dan menjadi lebih baik dari kemarin, sampai saatnya Tuhan memanggil kita pulang.."*🌿

Sumber, anonim (medsos)

6.9.18

Kisah Cinta Kasih Orang Tua kepada Anaknya, sebuah renungan untuk kita.


"Kisah tentang cinta kasih ini membuat semua terharu dan terus meneteskan air mata"

Di suatu siang hari terlihat seorang nenek berulang kali menekan tombol sebuah rice cooker, tetapi rice cooker itu tetap tidak mau menyala. Lalu nenek ini berjalan tergopoh-gopoh dari dapur ke kamarnya. Di dalam kamar nenek langsung merapikan rambutnya yang sudah memutih dan mengganti baju.

Setelah semua kancing bajunya terkancing, si nenek kembali membukanya lagi. Ternyata kancing bajunya tidak terkancing sesuai urutan, sehingga terkadang sisi baju yang sebelah kiri menjadi lebih tinggi dari yang kanan. Atau kancing yang sebelah kanan melampaui 2 urutan dari yang sebelah kiri. Nenek bahkan harus mengulanginya beberapa kali sampai berkeringat, baru akhirnya semua bisa terkancing rapi sesuai urutannya. Setelah itu nenek berjalan keluar dari kamar.

Saat nenek melintasi ruang tamu, cucu perempuannya yang berumur 16 tahun sedang menonton TV. Terheran melihat neneknya berpakaian rapi, lalu bertanya, “Nenek mau kemana, bukannya tadi nenek sedang masak didapur?” Nenek kemudian menjelaskan kalau ia tadinya memang mau memasak, tapi entah kenapa rice cookernya tidak mau menyala, dan sekarang nenek mau keluar sebentar membeli makanan.

Dengan wajah cemberut, cucunya meminta agar nenek cepat pulang karena ia sudah mulai lapar. “Iya, nenek akan cepat pulang. Kamu tunggu nenek sebentar yah...” Kata neneknya dengan tersenyum, supaya wajah cucunya tidak merengut lagi. Nenek pun berjalan keluar rumah, menunggu bus yang lewat, lalu naik bus ke pusat penjualan makanan.

Beberapa saat setelah nenek keluar rumah, cucunya berjalan ke dapur mencari cemilan untuk sekedar mengganjal perut. Tak sengaja dia melihat steker rice cooker yang belum dicolok. Cucunya pun tersenyum geli melihat sikap pelupa neneknya seperti orang yang sudah pikun saja.

Sesampai di pusat penjualan makanan, nenek membeli nasi ayam kesukaan cucunya. Setelah selesai membayar dan hendak pulang, langkah nenek tiba-tiba terhenti persis di pintu keluar. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, bola matanya membesar, raut mukanya berubah tampak kebingungan. Semua bangunan dan jalanan yang ada di depannya terlihat berbeda dan asing.

Nenek terdiam membisu sejenak. Dan akhirnya menyadari kalau ia lupa arah jalan pulang ke rumah.

Lantas dengan sigap, nenek melambaikan tangannya sambil berjalan menghampiri seorang pemuda yang melintas di depannya. Meminta bantuan kepada pemuda itu agar mau membawanya pulang. “Nak, Nak, tolong antarkan nenek pulang...” Kata nenek.

“Maaf, Nek. Saya sedang terburu-buru.” Tolak pemuda tadi.

Kemudian nenek menghampiri seorang wanita paruh baya. Sama dengan pemuda tadi, wanita ini juga tidak bisa mengantarkan nenek pulang karena akan menjemput anak-anaknya. Nenek tidak berhenti. Kali ini dengan gesit ia berjalan ke arah seorang bapak-bapak untuk meminta tolong. “Pak, Pak, tolong antarkan saya pulang. Cucu saya sedang menunggu saya pulang membawa makanan. Dia pasti sudah lapar sekarang.” Kata nenek dengan wajah terlihat sedih.

“Rumah Nenek dimana, yuk saya antar.” Jawab bapak ini. “Emm... mm... saya.., saya tidak ingat dimana.” Kata nenek dengan terbata-bata. “Tapi tolong antarkan saya pulang, Pak. Pokoknya antarkan saja saya pulang.” Nenek memohon. Bapak ini juga tidak bisa menolong karena nenek sudah pikun dan sama sekali tidak ingat dimana rumahnya. Mata nenek tampak berkaca-kaca, air matanya hampir jatuh membasahi pipi.

Berulang kali nenek terus meminta tolong kepada setiap orang yang ditemuinya untuk diantarkan pulang. Ada yang menolak dan ada juga yang bersedia... tapi siapa pun yang mau menolong tetap saja tidak bisa mengantarkan nenek. Wajah nenek tampak sangat sedih. Tanpa di sadari air mata nenek mengalir di pipinya. Teringat cucunya menahan lapar, sedang menunggunya pulang membawa makanan.

Nenek tetap terus berjalan sambil meminta tolong, dan sesekali mencoba mencari jalan pulang sendiri. Tanpa berhenti untuk beristirahat. Rambut putihnya yang tadinya tersisir rapi dan diikat ke belakang, sekarang mulai berantakan dan tidak karuan. Kedua tangannya terus mendekap nasi ayam yang dibelinya tadi siang agar tetap hangat. Seluruh wajah dan bajunya telah basah oleh keringat. Langkahnya juga sudah mulai melambat karena kakinya terasa sakit dan kelelahan.

Hingga hari mulai gelap, nenek masih saja terus berjalan, berusaha bisa sampai ke rumah meskipun dari wajahnya terlihat jelas sekali kalau nenek sudah sangat kelelahan...

Pada waktu yang bersamaan, dirumah nenek, sepasang suami istri baru pulang. Mereka adalah orang tua dari cucu nenek. Si ibu melihat anaknya yang sedang ngemil sambil menonton TV. Lalu bertanya, “Kok kamu ngemil, apa nenek belum selesai masak?” Putrinya menjelaskan, kalau nenek tidak jadi masak hari ini dan sudah sejak tadi siang pergi ke pusat penjualan makanan tapi masih belum pulang sampai sekarang.

“Apa! Nenek belum pulang dari tadi siang?!” Kata ayahnya dengan wajah terkejut bercampur khawatir. Belum sempat anaknya berkata apapun, kedua suami istri ini langsung pergi lagi. Bermaksud mencari nenek! Anaknya kaget melihat kedua orang tuanya tiba-tiba menjadi panik dan langsung pergi lagi. Setelah beberapa saat dia baru sadar, kalau nenek bukan pelupa, tapi sudah pikun, dan nenek pasti sedang tersesat sekarang. Segera, dia pun mengikuti kedua orang tuanya pergi mencari nenek.

Ketiganya berkeliling di tengah keramaian kota, berusaha menemukan nenek. Dan kemudian, kedua suami istri ini mendengar bunyi klakson mobil bersahut-sahutan. Keduanya segera berlari ke arah bunyi klakson tersebut. Sesampainya disana mereka melihat nenek berdiri terbengong di tengah jalan menghalangi laju mobil-mobil. Lalu keduanya menarik tangan nenek dan menuntunnya ke tepi jalan. “Apa yang Ibu lakukan di tengah jalan seperti ini. Ibu membuat kita jadi tontonan semua orang...” Bentak putranya.

“Pak, Pak, tolong antarkan saya pulang, cucu saya sekarang pasti sudah sangat lapar. Kasihan cucu saya, dia belum makan dari siang. Tolong Pak...” Karena di bentak, nenek semakin linglung dan tidak ingat dengan putra maupun menantunya sendiri. “Bu! Saya ini anakmu sendiri!” Teriak putranya lagi. Kemudian nenek berpaling ke arah menantunya, “Nyonya, tolong antarkan saya pulang, cucu saya sedang menunggu saya pulang bawa makanan.” Nenek memelas sambil menangis.

Mendengar nenek memelas seperti itu ditambah dengan melihat kondisi tubuh nenek yang sedemikian sangat lelahnya. Hati keduanya terasa sangat pilu sekali. Tak kuasa menahan air mata, menantunya menjadi ikut menangis. Menangis dengan teramat sedih. Menyadari betapa besarnya cinta dan kasih sayang nenek kepada cucunya, yang tak lain adalah putri mereka sendiri.

Tiba-tiba... dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara cucunya memanggil, “Nenek, Nenek...” Nenek menoleh ke belakang, mencari asal suara cucunya. Ternyata benar, cucunya berada tidak jauh dari sana. Dibalik keremangan lampu jalan, cucunya berlari ke arah nenek. Senang melihat cucunya berada disana, nenek pun berjalan ke arah cucunya dengan tertatih-tatih. Walaupun terlihat nenek tersenyum sangat senang, namun masih tampak sangat jelas kecapekan dibalik senyumannya itu.

Cucunya langsung memeluk nenek. “Nenek maafkan saya, Nenek tidak apa-apa?” Kata cucunya dengan meneteskan air mata. “Iya, Nenek tidak apa-apa. Ini nenek sudah belikan nasi ayam kesukaan kamu, ayo makan. Kamu pasti sudah lapar sekali. Kasihan cucu nenek harus kelaparan sampai malam.” Kata nenek sambil membuka bungkus nasi lalu di suapkan ke mulut cucunya. Cucunya terus menangis. “Nenek maafkan saya, maafkan saya, nek.” Cucunya terus berulang-ulang meminta maaf sambil menangis...

“Tolong maafkan nenek yah, kamu jadi harus kelaparan menunggu nenek terlalu lama.” Mendengar nenek berkata demikian, dan melihat kondisi nenek yang begitu kesakitan juga kelelahan. Air mata cucunya semakin deras mengalir. Putra dan menantu nenek yang melihat kejadian ini, juga menitikkan air mata. Lalu keduanya berjalan mendekati nenek dan memeluk nenek dari belakang. “Ibu, kami semua sangat mencintaimu.”



Sumber : Group WA berbagi ilmu makin cerdas.


Sahabat yang terkasih,

Kisah ini disampaikan kepada saya dan Anda untuk membuka hati dan mata kita akan betapa besarnya cinta kasih orang tua dalam mengurus serta membesarkan anak-anaknya. Ketika orang tua kita sudah renta dan tidak lagi mampu mengurus dirinya sendiri, sebagai anak, sudah sepatutnya kita juga mengasihi, merawat dan memperhatikan mereka sama persis dengan yang telah mereka lakukan kepada kita.

Dengan segala kerendahan hati dan penuh rasa hormat, maukah Anda berbaik hati untuk ikut serta bersama saya dalam meneruskan pesan kisah cinta kasih ini dengan “Tag/Share & Broadcast” kepada semua teman-teman dan anggota keluarga? Karena dengan kita berbuat demikian serta menganjurkan orang lain turut melakukan suatu mahakarya kebajikan untuk lebih peduli kepada orang tua dan akan membawa berkah rahmat terbesar dalam hidup kita di dunia ini.

Terima Kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca kisah ini dan terima Kasih telah berbagi hati mulia Anda untuk semua orang tua di dunia ini.

5.2.11

The Way of Life

" Never work just for money or for power. They won't save your soul or help you sleep at night "

Alkisah ada seorang profesor yang pergi berperahu dengan seorang nelayan. Saat perahu bergerak menyusuri sungai, sang profesor bertanya kepada si nelayan, " Apakah kamu pernah belajar geologi?,"  Dengan terbengong nelayan itu menjawab, "Tidak!."


"Oh, jika begitu, kau akan kehilangan 25 persen hidupmu," kata sang profesor.

Saat melihat daun yang mengambang di sungai, profesor bertanya lagi, "Apakah kamu pernah belajar botani?." si nelayan menjawab, "Tidak, profesor"

Dengan menggeleng-gelengkan kepala, profesor berkata " Berarti kamu akan kehilangan 50 persen hidupmu."

Saat perahu menyusuri sungai dengan pemandangan deretan pegunungan, lagi-lagi profesor bertanya," Apakah kamu pernah belajar geografi?" Kembali si nelayan menjawab," Tentu saja tidak!.

Sang profesor pun berkata," betapa malangnya dirimu, karena kamu akan kehilangan 75 persen hidupmu,"

Saat perahu makin jauh menyusuri sungai, tiba-tiba air sungai bergolak dengan amat kuat. Begitu kuatnya arus air sehingga perahu itu pecah akibat membentur batu besar. Dan pada saat perahu mulai tenggelam, si nelayan ganti bertanya kepada profesor," Apakah profesor bisa berenang?." Dengan ketakutan profesor menjawab," Ti, tidak!."

"Ah, jika begitu, berarti profesor akan kehilangan 100 persen hidup ini,!" kata si nelayan sambali berenang menyelamatkatkan diri.

------------------
 Kadang kita sudah merasa nyaman dengan kondisi keuangan saat ini. Kita sudah merasa cukup dan jarang atau mungkin malah tidak memiliki rencana sama sekali akan apa yang akan dilakukan di kemudian hari. Kita berada di zona nyaman dimana hidup dilakoni dengan 'mengalir apa adanya'.

Hidup dalam perangkap waktu atau uang semacam itu memang tidak menarik. Semakin banyak uang yang kita punya, semakin sedikit waktu yang kita miliki. Namun, jika tidak memiliki uang, waktu yang diperlukan untuk mencari uang juga semakin banyak.

Kondisi yang ideal adalah cukup uang dan waktu. Hidup memang bukan persoalan materi semata, karena kebahagiaan bukanlah berapa jumlah uang yang kita miliki, tetapi bagaimana kita bisa merasa cukup dengan uang yang kita miliki dan memiliki waktu untuk menikmatinya.

Uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan. Namun, tanpa uang, bagaimana kita bisa hidup (bahagia)? It's not about money, It's about the way of life.

 (dari buku, financial planning, Taufik Hidayat, Transmedia, 2010)